Jun 17, 2008

Perbezaan Psikologi Islam dan Psikologi Barat

Posted in Psikologi Islam at 4:28 am oleh abulutfi

Ilyas Ba-Yunus dan Farid Ahmad (1985) mengatakan bahawa Ibn Khaldun adalah orang yang memperkenalkan sains sosial (cIlm al-cumran), iaitu sekitar tahun 1377. Antara cabang sains sosial adalah psikologi dan sarjana-sarjana Islam adalah antara orang yang paling awal membuat kajian dalam bidang ini. Antara sarjana-sarjana Islam yang dimaksudkan ialah Ibn Sina, Al-Ghazali dan Al-Farabi. Ibn Sina dalam bukunya, Al-Shifa’, ada membincangkan akal, kewujudannya, hubungan akal dan tubuh, perasaan dan persepsi (Husain t.th.).

Menurut Ibn Sina, jiwa manusia mempunyai kemampuan secara teori dan praktikal yang membentuk kecerdikan atau kecerdasan minda. Menurutnya lagi, jiwa itu sendiri boleh mencapai idea yang tidak disedari oleh seseorang melalui perasaan, imaginasi dan anggaran. Beliau menganggap kebolehan tersebut sebagai faktor utama kepada tingkah laku (Husain t.th.).

Menurut Abdul Hameed Al Haslimi (1984) dari Universiti King Abdul Aziz, Al-Ghazali adalah orang yang mula-mula memberi istilah kepada kajian akal atau kelakuan manusia lima abad sebelum Rodold J. Clenues menggunakan istilah yang sama (psikologi). Al-Ghazali juga mengkaji hampir kesemua aspek dalam psikologi (Husain t.th.).

Al-Ghazali menyatakan bahawa jiwa adalah suatu entiti spiritual yang mengawal fungsi fizikal dan organik manusia serta menguasai deria untuk menjalankan keperluan-keperluan badan (Husain t.th.). Walau bagaimanapun, ilmu-ilmu yang diperkenalkan oleh sarjana-sarjana Islam ini telah dikembangkan oleh cendekiawan Barat tanpa memberikan kredit kepada pengasas ilmu tersebut.

Habibah dan Noran (1997) menyatakan bahawa dari perspektif Islam, personaliti dimaksudkan sebagai sahsiah atau secara umumnya akhlak. Menurutnya lagi, faktor-faktor lain yang dianggap penting dalam perkembangan personaliti manusia ialah hubungan manusia dengan Allah s.w.t., interaksi roh dan jasmani serta peranan akal.

Personaliti boleh dibahagikan kepada dua iaitu akhlak terpuji dan akhlak tercela. Manusia yang berakhlak atau mempunyai personaliti positif menurut perspektif Islam adalah manusia yang melakukan kebaikan dan menyerah diri secara total kepada Allah (Mohd Nasir 1992). Sarjana-sarjana Islam melihat bahawa perspektif baru dalam psikologi di bawah pengaruh Al-Quran dan hadith boleh mengisi lompang kekosongan dan mempengaruhi perubahan sosial untuk kebaikan manusia dan masyarakat (Husain t.th.).

Islam berpendapat, pengajian berkenaan jiwa manusia merupakan aktiviti saintifik yang berguna dan patut digalakkan sepertimana ilmu pengetahuan yang lain (Abdul Hamid 1989). Menurut Abdul Hamid (1989), penyelidikan mengenai diri manusia ternyata merupakan jalan paling singkat dan paling pasti kepada mempercayai Tuhan. Ini berpandukan maksud ayat-ayat dari Al-Quran berikut:

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahawa Al-Quran itu adalah benar” (Al-Quran: Al-Fussilat: 53)

“Dan di bumi ini terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri” (Al-Quran: Al-Dhariyat: 20-21).

Sesetengah ahli psikologi berpendapat bahawa psikologi telah menjadi sains yang kekurangan subjek utamanya, iaitu jiwa (Fromm, 1950). Hassan Langgulung (1986) menyatakan bahawa kesemua mazhab psikologi dari Barat tidak mengkaji jiwa tetapi sebaliknya berat kepada kajian tingkah laku. Menurutnya lagi, dari mana asal dan bagaimana bentuk jiwa tidak dikaji oleh ahli psikologi barat. Menurut Mahyudin Yahaya (1986):

Berbeza daripada pemikiran dan falsafah sejarah moden yang berbentuk sama ada empiris, material atau spiritual semata-mata, pemikiran dan falsafah sejarah Islam adalah hasil gabungan daripada ketiga-tiga aspek tersebut dalam bentuk bersepadu, dan dengan mengambil kira unsur-unsur teologi dan metafizik (hlm. 64).

Namun, jika ilmu psikologi Barat diketepikan keseluruhannya, mungkin juga sebahagian daripada warisan Islam itu sendiri akan hilang (Malik Badri 1980) kerana kebanyakan ilmu tentang kejiwaan diceduk dari hasil pemikiran sarjana-sarjana Islam seperti Ibn Sina dan Imam Al-Ghazali

About these ads

8 Komen »

  1. midi said,

    tq..banyak input yang menarik dapat diambil dari blog ni..

  2. ara said,

    blog ni blh membuka minda masyarakat agar lbh berwawasan untuk menuju ke wawasan 2020!!!!! great…..

  3. khai said,

    xder ka yang menerangkan tentang personaliti daripada perspektif islam jer

  4. nahdah said,

    TQ 4 your input..mudah2-an dpt dambil utk tatapan umum

  5. zaidi said,

    bgus btul ad usaha pengembangan seperti ini,pgmbgn ilmu,,,hrap pnrgan slpas ini lbh mendalam dan huraian yg mantap,,trma ksh,,,

  6. pencari kebenaran said,

    Bila kita kaji ilmu jiwa maka didunia ini setidaknya kita akan menemukan 2 jenis ilmu jiwa :
    1. Ilmu jiwa versi sudut pandang manusia,yang terbagi kepada berbagai macam teori,seperti teori psiko analisa,teori behaviorisme dll.dll. yang terlalu banyak untuk disebutkan satu persatu.teori teori ini kita kenali juga sebagai teori ilmu jiwa versi’barat’ karena berasal dari para ahli ilmu jiwa yang berasal dari dunia barat. ada persamaan mendasar yang merupakan ciri khas yang umum dari semua teori ilmu jiwa versi barat yaitu : tidak bisa menjelaskan jiwa manusia secara utuh – menyeluruh karena lebih banyak mengungkap problem jiwa manusia dalam hubungannya dengan dunia alam lahiriah nya,sedangkan aspek hubungan manusia dengan hal hal atau obyek obyek yang bersifat abstrak jarang atau kurang menjadi kajian utama.dengan kata lain ilmu jiwa versi barat lebih banyak mengungkap satu sisi dari jiwa manusia yaitu sisi ‘bagian luar’ dari jiwa manusia.
    2. Ilmu jiwa versi kitab suci atau yang bersandar pada deskripsi kitab suci,yang bisa menggambarkan jiwa manusia secara utuh dan menyeluruh karena melihat seluruh essensi jiwa manusia beserta problematikanya dari kacamata sudut pandang penciptanya.kitab suci menggambarkan bahwa jiwa manusia terdiri atas tiga element yaitu : ruhani-akal dan rasa perasaan nafsu,ketiga unsur jiwa itu memiliki karakteristik masing masing yang berbeda dan ketiganya juga punya fungsi yang berbeda beda.sebagai contoh : hati nurani menangkap hal hal yang bersifat essensial,logika menangkap hal hal yang bersifat konseptual-sistem-mekanisme dari realitas.
    Dunia adalah pertarungan antara kebenaran melawan kebatilan,kebaikan melawan kejahatan dan itu tergambar oleh ilmu jiwa yang bersandar pada kitab suci melalui penggambaran tentang pertarungan antara ruhani yang selalu cenderung kepada hal hal yang baik dan benar melawan keinginan hawa nafsu yang cenderung berkeinginan kepada hal hal yang salah dan buruk, dimana fenomena pertentangan antara ruhani versus hawa nafsu itu kurang tercover oleh ilmu jiwa versi barat.bahkan teori psikoanalisa tidak mengenal istilah ‘ruhani’ dengan segala sifat baiknya sehingga manusia lebih digambarkan sebagai makhluk hawa nafsu dengan segala keinginan negatifnya ( dalam teori psiko analisa tak ada gambaran realitas pertarungan antara ruhani versus hawa nafsu yang menjadi ciri khas manusia yang alami yang real – sesungguhnya sebagaimana digambarkan oleh kitab suci).begitu pula teori behaviorisme pada dasarnya menggambarkan jiwa manusia seolah hanya sebagai ‘boneka’ atau’ permainan’ yang digerakkan oleh realitas dunia alam lahiriahnya.
    Jadi pada umumnya tak ada penggambaran yang jelas tentang realitas adanya karakter kepribadian ruhani yang khas yang otonom – berdiri sendiri,yang tidak bergantung pada dunia luar,yang melawan hal hal yang jahat-yang buruk-yang salah yang bertentangan dengan suara hati nurani dalam kebanyakan teori yang berasal dari dunia barat.sebaliknya teori ilmu jiwa barat sangat peka dan sangat rinci kala berbicara tentang problem kejiwaan yang berhubungan dengan aspek rasa perasaan – emosional (‘hawa nafsu’ menurut bahasa kitab suci),dan psikiater tertentu (yang berkiblat ke teori ilmu jiwa dari ‘barat’ dalam advis advisnya sering ‘membolehkan’ pelampiasan rasa perasaan nafsu tanpa pertimbangan rusaknya ruhani dalam jiwa manusia (mengapa ya….tanda tanya).
    Bila sebuah teori ilmu jiwa tidak mengungkapkan bahwa jiwa manusia terdiri dari tiga unsur : ruhani- akal dan rasa perasaan hawa nafsu dengan segala karakteristik masing masing yang khas (sebagaimana digambarkan oleh kitab suci) maka bisa dipastikan bahwa teori tersebut bukan teori ilmu jiwa yang melukiskan manusia secara utuh dan menyeluruh.dan efeknya teori seperti itu bisa membuat manusia tidak bisa mengenali dirinya secara utuh.ambil contoh : melalui teori psiko analisa Freud manusia tidak akan bisa mengenal adanya unsure ruhani (hati nurani) dalam jiwa nya yang memiliki sifat sifat Ilahiah yang selalu condong kepada hal hal yang baik dan benar,sebab psiko analisa terlalu mengekspose unsur rasa perasaan nafsu-emosi seolah manusia hanya terdiri dari unsur rasa perasaan hawa nafsu.(salah satu efek negatifnya adalah psikiater yang orientasi pada teori Freud tidak akan memberi advis advis yang sifatnya untuk kepentingan ruhani tapi advis advis yang diberikan selalu condong untuk kepentingan rasa perasaan nafsu manusiawi).
    Kini kita sudah punya gambaran perbedaan mendasar antara ilmu jiwa versi ‘barat’ dengan ilmu jiwa versi kitab suci,titik tekannya sebenarnya ada pada problem penggambaran unsur ruhani dengan segala karakteristiknya,bila ruhani tidak digambarkan secara utuh manusia kelak akan menjadi asing dengan faktor faktor yang bersifat ruhaniah,dan hanya akan peka dengan faktor rasa perasaan hawa nafsunya,dimana psikolog yang orientasi pada ilmu jiwa versi ‘barat’ cenderung menjadikan rasa perasaan nafsu sebagai ukuran ‘kesehatan jiwa’.
    Dengan ilmu jiwa versi kitab suci manusia mudah untuk menemukan serta memahami agama sebab ilmu jiwa versi kitab suci mengemukakan unsur jiwa yang merupakan alat baca agama seperti ruhani dan akal,tetapi ilmu jiwa yang tidak menggambarkan realitas adanya ruhani dan akal pasti akan membuat manusia sulit untuk menemukan dan memahami agama.
    Tentu tidak semua yang datang dari teori buatan manusia salah tetapi dengan melihat kepada perbedaan yang sangat mendasar itu kita harus kritis dan bisa menyaring mana yang benar dan mana yang salah,tulisan ini adalah paparan singkat sebagai pemandu anda dalam mempelajari ilmu jiwa agar anda punya gambaran mendasar mana bagian yang harus diambil dan mana bagian yang harus dibuang dan juga sebagai pemandu agar anda kelak memiliki pedoman yang pasti yang bukan teori.silahkan perbedaan itu dicari dan dianalisis lebih dalam dan lebih jauh.

  7. SpecCikgu said,

    Malangnya teori psikologi barat kini lebih dominan dan mempengaruhi banyak bidang termasuk pendidikan..

    http://speccikgu.blogspot.com/2014/03/wrong-way.html


Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

Ikut

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: